Januari 2010


Sebagian dari diriku bilang.. aku ngga mau kehilangan kamu.. sebagian diriku yang lain berkata..

“kalau kamu ngga melepasnya… kamu akan selamanya berada di sini.. dalam posisi tergantung.. tidak maju dan juga tidak mundur.. hanya diam.. sementara yang lain sudah menemukan tujuannya masing2..”.

dan aku pun masih di sini.. memilih untuk menerima posisi diam, yang oleh sebagian orang adalah posisi gantung… karena aku masih punya secuil harapan.. bahwa engkau akan datang padaku.. suatu saat nanti.. dan mengatakan bahwa engkau menyayangiku dan memiliki perasaan yang sama denganku… walau aku tahu itu tidak akan pernah terjadi..

aku masih bisa berdiri tegak.. dengan semua keyakinan bahwa engkau akan menyayangiku.. menjadi milikku.. suatu saat nanti, entah kapan.. dan aku juga masih bisa tersenyum.. hanya dengan melihatmu ada di dekatmu.. walau tidak bersamaku..

tapi semua harapan itu musnah.. ketika akhirnya aku tahu.. dari sahabatku.. bahwa engkau akan menikah dengannya.. kekasihmu.. Aku tak tahu harus bahagia atau sedih… karena aku tahu ini adalah akhir penantianku.. akhir dari pertanyaan besar dalam kepalaku.. apakah engkau memiliki perasaan yang sama denganku.. dan aku pun akhirnya tahu.. jawabannya adalah tidak..

Jadi, di sinilah akhir cerita tentang kamu.. Tak akan ada lagi namamu di buku ini.. aku akan menutup kisahnya sampai di sini.. Berhenti menulis untuk sesaat.. hingga aku memiliki tokoh baru dalam ceritaku..

Aku memang pernah berharap memiliki sebuah cerita yang berakhir indah… Ada kita berdua.. menjadi sepasang kekasih.. dan kita bahagia.. Tapi kurasa bukan ini kisahnya.. Bukan sekarang saatnya..

Aku hanya harus bersabar.. Menanti pangeran sejatiku yang akan benar2 membuat kisah ini berakhir bahagia.. dan pangeranku ternyata bukan kamu… Aku yakin, akan ada tokoh lain mewarnai ceritaku.. cepat atau lambat.. Dan di saat yang tepat.. kisah ini pasti akan berakhir dengan kalimat favoritku..

“dan mereka pun akhirnya hidup bahagia selamanya…”

taken from : http://ngerumpi.com/baca/2010/01/28/belum-saatnya.html

Selama aku pergi
Ku akan mengingatmu
Tak hanya sementara
Selalu dan selalu kurindukan
Senyummu untukku di sini

Reff 1:
Ku ingin kau tahu
Meski pun ku jauh
Ku ada di hatimu
Ku ingin kau tahu
Meski pun kau jauh
Kau tetap milikku
Selamanya

Ku bernyanyi untukmu
Untukmu yang kurindukan
Tetaplah setia menungguku
‘Kan kembali

Reff 2:
Ku ingin kau tahu
Meski pun ku jauh
Kau ada di hatiku
Ku ingin kau tahu
Meski pun kau jauh
Kau tetap milikku
Selamanya

By : Adrian Martadinata

Setahun lamanya (kurang lebih) aku mengenalnya, seolah tak pernah cukup untuk benar-benar mengenal hatinya (tentunya). Dia terlalu jauh untuk diraih, terlalu angkuh untuk direngkuh, sekaligus terlalu menawan untuk dilupakan. Aku tak pernah menyesal mengenalnya, karena ia menorehkan selarik warna dalam hidupku. Mungkin bukan dalam warna yang mencolok, yang membuatnya tampak hadir dengan jelas, tapi aku dapat merasakan warna itu tetaplah indah.


“dia benar-benar pergi…” tatapannya dalam, hanya langkah kaki yang masih terdengar dari balik pintu. Langkah yang makin samar-samar suaranya. Akhirnya, Senja kembali sendiri, menanti fajar pagi dari balik jendela. Berharap esok dia kembali, walaupun mustahil baginya berharap lagi.

Malam ini sepi, di kamar berukuran cukup untuk dua tempat tidur, dengan satu buah TV dihadapannya, dan satu kamar kecil. Berbaringlah seonggok kumpulan daging dan tulang dengan selang menggantung dan melekat di pergelangan tangannya. INFUS.

Malam ini ku ditemani ibu yang tidur di tempat duduk disebelahku, dengan setianya menungguiku yang berbaring di tempat tidur dengan bersprei putih dan berselimut biru. Maksudnya adalah khawatir jika sewaktu-waktu ku membutuhkan bantuan. Sepi, sunyi, malam ini disebuah rumah yang berbau obat ini. uuugh…. I don’t like!! I want go home!! :-(

Aku Tersenyum…

Aku Tertawa…

Aku Menangis…

Aku Sedih…

Aku Bahagia…

Aku Rindu…

Aku Kawatir…

Aku Cemas…

Aku Benci…

Aku Marah…

Aku Kesal…

Aku Cinta…

Aku Terpesona…

Aku Tersanjung…

Aku Tersakiti…

Aku Sayang…

Aku Ingin…

Aku Takberdaya…

Aku Lemah…

Aku Jatuh cinta…

Aku Patah hati…

Aku Kecewa…

Aku Mananti…

Aku Menunggu…

Aku Bersabar…

Aku Kuat…

Aku, Aku, Aku dan selalu Aku.

Tiga hari kunanti
Jawabanmu oh kasih
Setiap saat ku harap
Ada keajaiban dalam dirimu
Indahnya masa lalu
Tergores amarahku
Cemburu menguras hati
Galau kini menyiksa diri

Reff :
Kembalilah kau kekasihku
Jangan putuskan kau tinggalkan aku
Sekalipun sering ku menyakitimu
Tapi hanya kaulah pengisi hatiku

Oo… Maafkan aku
Oo… Maafkan egoku
Oo… Maafkan diriku

By : Vidi Aldiano

Semua cerita tentangmu
Yang masih tersimpan di dalam benakku
Meresap dijiwaku
Memenuhi ruang hatiku

Seperti cahaya mentari kau hadir
Terangi hidupku, terangi jalanku
Menuntunku memaknai semua yang ada

Dan aku takkan melupakan semua yang indah
Yang pernah engkau ucapkan

Meski kau telah berlalu
Tak lagi di sisi, namun cintamu akan tetap hidup
Tak terhapuskan, tak tergilas oleh waktu

Dan aku takkan melupakan semua yang indah
Yang pernah engkau berikan

Cintaku tak henti mengalir untukmu
Mengenalmu adalah hal terindah yang pernah aku alami

Oo..aku takkan melupakan segala yang terindah
Yang hadir dalam hidupku

Setiap kata kan terukir di hati
Semoga damai selalu bersamamu
Semoga damai selalu bersamamu

By : Padi_Ode

Kemarin ketika aku berkunjung ke sebuah salon muslimah, salon khusus perempuan. Kebetulan hari itu tidak banyak pelanggan di salon tersebut. Hanya ada beberapa orang saja, kemudian datanglah seorang ibu beserta suami dan anaknya yang kira2 berumur 4 tahun.

Ibu tersebut ingin potong rambut lalu sang suami menunggu di luar batas yang telah ditentukan, tidak boleh masuk karena “salon muslimah“. Sang suami menunggu bersama anaknya. Lalu…. tiba-tiba sang anak mengikuti ibunya kedalam yang ingin potong rambut, mungkin anak tersebut ingin tau apa yang akan dilakukan ibunya dan mbak salon itu. Ibu dan mbak salon itu pergi masuk kedalam, lebih tepatnya ke tempat pencucian rambut sebelum rambut dipotong. Ibu berbaring dengan kepala di dalam westafel (kebayangkan maksudnya?? coba bayangkan terlebih dulu, hehehe……….), lalu Dikeramas, di pijit, di siram air, dan diberi handuk.

Sebelum selesai pengkeramasan, sang anak masuk menuju ibunya, dia (anak) tak menengok-nengok ke belakang. Lalu tiba2 dia menengok kebelakang daaaan…. anak itu langsung berubah muka, spontan (Uhuy..) kaget hingga akhirnya nangis. Kata sang ibu “salahnya si ikut2 ke kedalam” lalu ia mendekati ibunya yang hanya bisa membantu dengan tangannya untuk menutupi mukanya, lebih tepatnya matanya. Kata sang ibu” udah jangan di liatin” tapi anak itu masih saja ingin melihat, penasaran sepertinya, dan akhirnya anak tersebut menangis lalu minta ke tempat ayahnya yang berada di depan. tapi anak itu tak berani jalan sendiri karena harus melewati hal yang membuat dia kaget, menangis dan takut tersebut.

Lalu anak itu diantarlah oleh mbak salon yang lain ketempat ayahnya. Setelah sampai ditempat ayahnya, anak itu minta pulang sambil menangis. “Mau pulang, mau pulang….

Akhirnya, sang ayah mengantar pulang anak tersebut.

Aku, ibunya anak itu, mbak2 salon dan pelanggan lain tertawa. Bahkan sampai aku menulis ini masih bisa tersenyum2 jika teringat kejadian itu.

Tau Kenapa???

portable_fir_sauna_boxAnak itu melihat pelanggan lain yang sedang disauna/steam seluruh badan kecuali kepala (bisa membayangkan dong???)  hanya kepala yang terlihat. Sementara orang yang ada dalam sauna tersebut juga tertawa, maka dari itu sang anak kaget dan takut kemudian menangis, mungkin dia pikir “Kok cuma kepalanya saja yang kelihatan, mana badannya dah gitu kok bisa ketawa2 kepalanya” bahkan mungkin dia mengira ‘hantu‘. Wkwkwkwk………….

Dasar anak-anak memang lucu dan menggemaskan….

Notes : Seperti gambar disini, hanya tanggannya tidak keluar.

under_the_apple_tree_blue_bicycleSuatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak Lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya.

Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.

Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. “Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu. “Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi. ” jawab anak lelaki itu.” Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.”Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang… tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu.” Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita.

Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih. Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya.”Ayo bermain-main lagi denganku.” kata pohon apel.”Aku sedih,” kata anak lelaki itu. “Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?

“Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah. Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu. Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. “Maaf anakku, ” kata pohon apel itu.”Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu. “Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu.” Jawab anak lelaki itu. “Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat.

” Kata pohon apel. “Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu.” Jawab anak lelaki itu.”Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu.Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini.”Kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata. “Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang.” Kata anak lelaki. “Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu.”"Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang. “Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya. Ini adalah cerita tentang kita semua.

Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita masih kecil, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apapun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita, tanpa kita sadari. Sebarkan cerita ini untuk mencerahkan lebih banyak rekan. Dan, yang terpenting: cintailah orang tua kita. Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita.

Next Page »